Asah Jiwa Entrepreneur : Mahasiswa PGMI Sulap Limbah Jadi Produk Bernilai Ekonomi di PGMI Fest 2025

Agenda Berita
Stand Makrame dan Olahan Limbah Non-Organik pada PGMI FEST 2025

LIMBOTO – Tidak hanya piawai di atas panggung seni, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) IAIN Sultan Amai Gorontalo juga menunjukkan kemampuannya di dunia wirausaha. Sebagai bagian dari kemeriahan PGMI Fest 2025, para mahasiswa menggelar pameran hasil kerajinan tangan dan festival kuliner lintas Provinsi di Sulawesi yang menarik perhatian pengunjung di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Kegiatan ini merupakan luaran (output) nyata dari mata kuliah Pembelajaran Prakarya SD/MI.  Melalui pameran ini, mahasiswa ditantang untuk mengubah ide kreatif menjadi produk yang memiliki nilai jual, sekaligus melatih mental kewirausahaan (entrepreneurship) sebagai bekal tambahan di luar kompetensi pedagogik.

Stan pameran mahasiswa menampilkan berbagai produk tangan terampil yang mengedepankan prinsip keberlanjutan dan estetika. Beberapa produk unggulan yang dipamerkan dan dijual meliputi:

Kerajinan Limbah Organik & Anorganik: Mahasiswa menunjukkan kepedulian lingkungan dengan menyulap bahan sisa (seperti kulit kerang, biji-bijian, botol plastik, hingga koran bekas) menjadi hiasan rumah yang artistik. Kerajinan Makrame: Seni simpul menyimpul yang sedang tren, diaplikasikan menjadi gantungan pot, tas, hingga hiasan dinding kekinian. Kerajinan Kain Perca: Pemanfaatan sisa kain konveksi menjadi produk bermanfaat seperti dompet, sarung bantal, dan aksesori lainnya.

Selain kerajinan tangan, pengunjung juga dimanjakan dengan festival jajanan. Mahasiswa menyajikan ragam kuliner khas dari tiga provinsi di Sulawesi, yang mencerminkan keragaman asal mahasiswa Program Stusi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Gorontalo:

  • Jajanan Khas Gorontalo: Seperti tili aya, kue sabongi, milu siram, aliwadala, cucur dan kudapan lokal lainnya.

  • Jajanan Khas Sulawesi Utara (Sulut): Menampilkan cita rasa khas seperti tinutuan, klappertaart, panada, woku dan lainnya

  • Jajanan Khas Sulawesi Tengah (Sulteng): seperti Tombouat, ambal, yabui, penganan ikan dan lainnya

Kerajinan tangan dari manik-manik untuk dekorasi rumah dan aksesori pribadi

Dosen pengampu mata kuliah Prakarya Miftha Huljannah,M.Pd dan Sheptiani Rusmaningtyas, M.Pd  menjelaskan bahwa aktivitas ini dirancang agar mahasiswa memiliki pengalaman langsung dalam proses produksi dan pemasaran.

“Seorang guru SD/MI masa depan harus kreatif. Dengan belajar prakarya dan kewirausahaan, mereka nantinya bisa mengajarkan siswa cara memanfaatkan bahan di sekitar menjadi karya seni, sekaligus menumbuhkan kemandirian ekonomi sejak dini,” ungkap Shepti.

Melalui pameran ini, mahasiswa belajar banyak hal mulai dari penentuan harga jual (pricing), pengemasan produk (packaging), hingga teknik komunikasi saat menawarkan barang kepada pembeli.

PGMI Fest 2025 terbukti tidak hanya menjadi ajang selebrasi budaya, tetapi juga inkubator bagi lahirnya guru-guru muda yang kreatif, inovatif, dan berjiwa wirausaha.