Integrasi Sains dan Spiritual : Dr. Zohrawaty Hiola Paparkan Konsep Teo-Sosio-Bio-Kosmo Ekologi dalam Orasi Ilmiah Yudisium PGMI

Agenda Berita Dosen
Dr. Zohrawaty Hiola, M.Pd sedang menyampaikan orasi ilmiah pada Yudisium Semester Ganjil 2025/2026

LIMBOTO – (15/1) Prosesi Yudisium Semester Ganjil TA 2025/2026 Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) IAIN Sultan Amai Gorontalo kali ini selain agenda akademik rutin, acara ini diperkaya dengan pemikiran mendalam melalui Orasi Ilmiah yang disampaikan oleh Dr. Zohrawaty Hiola, M.Pd., pakar pendidikan IPA pada prodi tersebut. Dalam orasinya yang , Dr. Zohrawaty mengangkat tajuk “Nilai Aksi untuk Menguatkan Ekoliterasi Mahasiswa melalui Teo–Sosio–Bio–Kosmo Ekologi dalam Pembelajaran IPA Islami”. Dr. Zohrawaty mengawali orasinya dengan keprihatinan terhadap krisis lingkungan global. Beliau menegaskan bahwa mahasiswa PGMI, sebagai calon guru kelas di madrasah, harus memiliki tingkat ekoliterasi (melek ekologi) yang tinggi. Namun, ekoliterasi yang dimaksud bukan sekadar memahami ekosistem secara biologis, melainkan melahirkan “Nilai Aksi” atau tindakan nyata yang berakar pada keyakinan.

Inti dari pemikiran Dr. Zohrawaty terletak pada keterpaduan empat pilar dalam pembelajaran IPA yang islami:

  • Teo-Ekologi: Memandang pelestarian alam sebagai bentuk ibadah dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardh (wakil Tuhan di bumi).

  • Sosio-Ekologi: Membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk hidup selaras dengan alam melalui etika sosial yang baik.

  • Bio-Ekologi: Pemahaman ilmiah terhadap keragaman hayati dan keseimbangan ekosistem secara biologis.

  • Kosmo-Ekologi: Memahami keterhubungan antara manusia, bumi, dan alam semesta sebagai satu kesatuan ciptaan yang saling bergantung.

“Mahasiswa PGMI harus mampu mengajarkan IPA kepada siswa Madrasah Ibtidaiyah tidak hanya sebagai materi hafalan, tetapi sebagai cara mengenal keagungan pencipta melalui alam. Inilah esensi dari Pembelajaran IPA Islami,” ujar Dr. Zohrawaty Hiola di hadapan jajaran pimpinan FITK dan peserta yudisium.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa konsep ini harus diterjemahkan ke dalam kurikulum dan metode pengajaran di tingkat dasar. Mahasiswa ditantang untuk menciptakan media pembelajaran yang kreatif, di mana nilai-nilai tauhid berkelindan dengan fakta-fakta sains. Dengan demikian, siswa MI sejak dini sudah memiliki karakter peduli lingkungan yang berlandaskan iman.

Ketua Program Studi PGMI, Asriyati Nadjamuddin, M.Pd., memberikan apresiasi tinggi atas gagasan tersebut. Menurutnya, pemikiran ini sejalan dengan visi prodi untuk menghasilkan guru yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap keutuhan alam semesta.

Kegiatan yang berlangsung di Aula FITK ini diakhiri dengan sesi tanya jawab singkat dan diskusi hangat di antara civitas akademika, yang menunjukkan besarnya ketertarikan terhadap pengembangan model pembelajaran IPA Islami di masa depan.